Selasa, 17 Agustus 2010

Dirajam, Ashtiani Sedot Simpati Dunia

Iran, Selasa (17/8), menyerukan kepada negara-negara Barat untuk tidak mencampuri kasus seorang perempuan yang dihukum mati dengan cara dirajam.

Iran tidak akan memberi toleransi terhadap gangguan apapun terkati kasus yang masih dalam pemeriksaan itu. "Negara yang independen tidak mengijinkan negara lain untuk mencampuri urusan peradilan mereka," kata jurubicara kementerian luar negeri Iran, Ramin Mehmanparast, dalam sebuah konferensi pers.

Ia menanggapi pertanyaan wartawan tentang status Sakineh Mohammadi-Ashtiani, seorang perempuan 43 tahun yang punya dua anak dan dijatuhi hukuman mati dengan cara dirajam (dilempari batu hingga tewas) oleh sebuah pengadilan Iran. "Negara-negara Barat harusnya tidak memberi tekanan dan tidak melebih-lebihkan... kasus peradilan memiliki prosedur yang tepat, terutama bila menyangkut pembunuhan."

"Jika seseorang melakukan kejahatan di Iran, orang itu akan dituntut yang merupakan sesuatu yang normal, apalagi kalau dia telah membunuh seseorang. Semakin berat hukuman, semakin teliti kami dalam melaksanakannya. Ini sedang dilakukan," kata Mehmanparast.

Negara-negara Barat dan kelompok hak asasi manusia telah dengan keras menentang hukuman rajam terhadap Mohammadi-Ashtiani dan memperingatkan bahwa hukuman mati itu akan segera dilaksanakan. Kepala peradilan Iran, Sadeq Larijani, menangguhkan untuk sementara pelaksanaan hukuman itu.

Para pejabat di republik Islam itu masih menjaga perempuan yang aka dirajam itu karena perzinahan dan menjadi kaki tangan dalam kasus pembunuhan suaminya.

Para pengacaranya dan lembaga pemantau hak asasi manusia yang berpusat di London, Amnesty International, mengatakan, Mohammadi-Ashtiani dihukum hanya karena memiliki hubungan gelap dengan dua laki-laki dan tuduhan pembunuhan ditambahkan kemudian.

Mehmanparast mengatakan, protes negara-negara Barat terhadap kasus Mohammadi-Ashtiani tidak rasional dan agak politis. "Jika kami membebaskan mereka yang melakukan pembunuhan, tidak akan ada keamanan apapun. Jika itu maksudnya, kita juga dapat menuntut bahwa mereka harus membebaskan semua orang yang telah melakukan pembunuhan dan kejahatan serius," katanya.

Ketika ditanya tentang usulan Presiden Brasil, Luiz Inacio Lula da Silva, yang menawarkan suaka bagi Mohammadi-Ashtiani, ia mengatakan, Brasil akan memahaminya bahwa itu akan merusak hubungan antara kedua negara. Presiden Mahmoud Ahmadinejad menyuarakan pandangan serupa dalam sebuah wawancara di siaran berbahasa Inggris di Press TV hari Minggu. Pemimpin garis keras itu mengatakan, peradilan Iran setuju bahwa Mohammadi-Ashtiani tidak boleh dikirim ke Brasil.

"Saya kira tidak perlu membuat beberapa masalah bagi Presiden Lula dan untuk mengirimnya ke Brasil. Kami ingin mengekspor teknologi kami ke Brasil ketimbang orang tersebut. Saya pikir masalahnya akan dipecahkan di Iran," kata Ahmadinejad dalam komentar yang diposting di website televisi itu.

0 komentar:

Poskan Komentar